Entalah… waktu seperti sedang mangikis kisah kita, kamu mulai menghilang, kita seperti bukan kita lagi. Aku sampai dititik jenuhku, sakit ini mengajarkanku bahwa semuanya terlalu menyudutkanmu. Pada ujungnya nanti juga pasti aku akan menyerah, menyerah mempertahankan cinta yang kurasa tidak menginginkanku, akanku buang sisa-sisa sakit ini, tak ada yang lebih indah dari menyaksikanmu menua tapi aku juga tak bisa bertahan didalam kisah yang selalu meminta air mata menetes.
Aku tidak pernah memikirkan untuk pergi, tapi perasaan ini seperti telah lelah. Bukan masalah seberapa lama aku bersamamu tapi seberapa besar cintamu padaku, aku tidak ingin terus memaksamu berada disini, bersamaku, bagaimana bisa aku bertahan saat jarak ini semakin terasa jauh karna aku buta tentang kamu, bagaimana bisa aku tenang disini sedangkan aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, aku tidak berpikir tentang apa yang kamu lakukan, tapi apa yang terjadi padamu.
Kamu seolah menutup mata pada org yang disisni selalu menunggu kabarmu, pada seseorang yang disini selalu menanyakan kabarmu. Bagaimana aku bisa tersenyum dengan tenang? Kamu seolah batu kecil yang menghalangi jalanku, saat aku tersenyum tiba-tiba hatiku teringat kamu yang sedari kemarin belum ngirim kabar. Bukan aku nuntut loh.. cuman seenggaknya kamu ada saat aku butuh
0 comments:
Post a Comment