“kamu kenapa lagi? Marah sama siapa lagi? Mau marah-marah ke
aku lagi? Aku capek, capek jadi tempat pelampiasan amarah kamu yang suka
tiba-tiba muncul dan nggak tau arah, marahnya karena siapa marah-marahnya ke
siapa, aku bukan buku harian kamu yang bisa kamu corat-coret semaumu kalo kamu
lagi nggak nentu, aku ini pacar kamu bukan buku dan ini bukan pertama kalinya
aku jadi sasaran”. Emosi dikepala rena menutup semua cinta yang ada dihatinya
tepat saat mereka berantam untuk kesekian kalinya diminggu itu. “Ren, aku nggak
pernah jadiin kamu pelampiasan, aku ke kamu karena ingin kamu peluk dengan
kata-kata penenang, justru karena kamu pacar aku! Aku pingin kamu jadi buku
harian aku, tempat aku cerita semua masalah aku, yah.. aku tau akhir-akhir ini
aku lebih suka marah-marah tapi aku nggak butuh ocehan kamu lagi, aku butuh
kamu peluk aku dari jauh, aku nggak tau mesti cerita ke siapa karna cuman kamu
yang aku percaya tapi apa yang aku dapat? Apa? Kamu malah marah-marah, kamu
nggak pernah tau cara buat api jadi air, kamu nggak pernah mau ngeritin aku”.
Suara dion terdengar seperti lelah, mungkin karena sifat rena yang ngak pernah
tau dan nggak pernah mau tau sebenarnya dion seperti apa.“sayangnya, aku bukan
fisikawan yang tau ngerubah api jadi air. Salahin aja terus aku, kamu emang
selalu benar dengan semua kesalahan kamu”. Rena seperti plastik yang disiram
minyak tanah dan dibakar , hening sejenak mengisi bermenit-menit waktu telpon
malam itu. Rena dan Dion memang terpisah jarak karena masing-masing harus
melanjutkan study. Lalu hening terpecah kembali setelah dion berhasil
mengumpulakan kembali energi positif dikepalanya dion mencoba
memberi penjelasan namun sepertinya emosi rena sudah kalang kabut. “Kamu capek
sama aku? Yaudah.. kita sama-sama capek, nggak ada yang musti dipertahankan
lagi. Aku mau putus”, seketika perasaan dion terhentak, seperti terlempar
keluar dari kotak kebahagiaan.“nggak kaya gini nyelesaiin masalah, masih banyak
yang musti dipertimbangkan lagi, 3 tahun ren!! Bakal berakhir cuman karena hal
beginiaan, konyol”, dilemparkan tubuhnya keatas kasur yang sedari tadi
dipunggungi oleh dion.”nggak ada yang musti dipertimbangkan lagi, tolong ralat
bukan BAKALAN tapi udah berakhir . MUdah-mudahan ada cewek yang tau cara
ngerubah api jadi air, noh pesulap mungkin bisa”.
Malam
itu berakhir begitu saja, sudah nggak ada kontak lagi bahkan rena nge-DC (Delet
Contact) Dion dari contact bbmnya sampai dion mendengar kabar dari temannya
bahwa seminggu setelah putus dengannya rena sudah nemuin pengganti dia, saat
itu dion berpikir keras dan menemukan jawaban dari rasa penasarannya kenapa 1
bualan belakangan rena mudah marah-marah untuk hal kecil, “ternyata lama atau
sebentarnya hubungan nggak ngejamin lu bakal jadi jodohnya” .bisiknya dalam
hati, karena memang dion sudah kenal keluarga rena dan begitupun rena sehingga
dion sudah memantapkan hati bahwa renalah yang terakhir, tapi ternyata
perselingkuhan mengalahkannya. Sejak hari itu dion berhenti dari keyakinannya
tentang kesetiaan. bahkan dalam waktu 3 bulan setelah putus dari rena, dion
udah macarin 15 orang dan dalam sekali pacaran bisa sampe 3 orang sekaligus.
Sampai akhirnya dion ketemu dengan seorang maba di kampusnya, namanya diandra.
Gadis berambut panjang dan sedikit pirang itu dikenalkan oleh seorang teman
yang kebetulan adalah panitia pelaksana ospek di kampusnya. “woee.. bro, sama
siapa lagi sekarang?” Fajar mendorong dion dengan bahunya.”maksud lu?” dion
yang saat itu sedang melamunpun kebingungan dan memasang wajah bego.”astaga,
makanya jangan banyak ngelamun, lagi jalan sama siapa?” fajar memperjelas
pertanyaannya sambil bangkit dari tempat duduknya.”Nggak lagi jalan sama
siapa-siapa, gue disini aja dari tadi”,jawab dion santai.”Sejak kapan sih lu
jadi bego bin tolol gini?” fajar mengerutkan alisnya.”Sejak cerita nggak
berpihak sama rencana” jawabnya dengan tatapan kosong.”Rena lagi? Udah deh, dia
udah jelas-jelas ngebuang lu buat pacar barunya, come on bro! nih nomer hp maba
cantik, gue yakin lu suka”. menyodorkan hand phone tepat dimuka dion.”Kaya tau
type gue aja” masih dengan tatapan kososng tanpa melihat kearah fajar yang
sedang menggebu-gebu sendiri.”coba aja dulu bro, nih hand phone gue, lu boleh
balikin setelah lu berubah pikiran dan mau jalan sama dia, oia.. namanya
diandra, gue pergi dulu yah"
Seminggu sudah sejak hand phone fajar ditangan dion dan akhirnya
dion memutuskan untuk menelpon gadis yang diingatnya bernama diandra.”hay.. aku
dion temannya fajar, seniormu! Kamu diandrakan?”. Tanya dion setelah Diandra mengangkat
telponnya dengan diam.”oia.. kak dion, iya pernah diceritain kak fajar, aku
kira cuman bohongan” jawabnya canggung.”besok bisa ketemu nggak? Di caffe dekat
kampus jam 7, maaf yah nggak bisa jemput”, pinta dion tanpa memperdulikan
pernyataan diandra.”aaaa..iya bisa kak, tapi mungkin agak telat dikit, karna ada
keperluan sekitar situ besok”, perasaan diandra biasa saja tapi, terasa sedikit
canggu suaranya karena lawan bicaranya adalah senior dikampusnya.”Hehe, aa..
ngggak apa-apa kok…okey, sampai ketemu besok din”, jawab dion menutup
pembicaraan canggu malam itu.
Besoknya mereka benar-benar ketemu, dan benar juga kalo
dipertemuan perdananya ini diandra sedikit ngaret. Dion suka begitu juga rara
dalam tanda kutip nggak ada setruman
hati, kagumlah begitu. Kebiasaan dion nggak pernah mau biarin mangsannya nunggu
lama-lama, benar saja sehari setelah pertemuan itu mereka jadian, walaupun
dua-duanya benar-benar tidak merasakan setruman dihati saat mereka berdua, tapi
bagi diandra dia seperti tidak mau terlepas bukan karena cinta tapi ada
keyakinan saja, mereka menjalani dengan kepalsuan selam asekitar 3bulan, mereka
lost contact. Sama-sama gengsi hubungin duluan, karena dion kembali ke
daerahnya sekitar dua bulan karena skripsi dan embel-embel kesibukan lainnya
telah selesai, dan tinggal menunggu hari H untuk memakai toga. Sejak kehilangan
kontak dengan dion, benar saja perasaan rara mulai aneh, terasa kosong. Dia
mulai bertanya, apa ini artinya ketakutanku kehilangna dia? padahal aku sama
sekali nggak nyimpan perasaan sama dia, sama sekali nggak ngerasain hati yang
kesetrum saat ada didekatnya tapi sekalinya dia jauh aku benar-benar merasa
kosong, apa ini cinta? Tapi aku nggak ngerasain sensasinya, waktu dekat dia aku
ngerasa datar tapi jauh sama dia aku ngerasa kosong. Deretan pertanyaan itu
mondar-mandir di kepalanya, walaupun dia sedang berduaan dengan kekasihnya
panji yang sejak 1bulan yang lalu dekat dengannya. Mereka sama-sama punya kehidupan baru, dion punya
pacar lagi dan rara juga, rara tau itu saat dia membuka akun dion dan benar
saja dion jelas-jelas ngeposting nama ceweknya, ahh.. tiba-tiba hati rara hancur, entah karena hubungannya yang nggak
ada kejelasaan atau karena memang dia mulai jatuh cinta. Butiran embun itu
turun dari pelupuk yang sama sekali tidak disadari olehnya, reaksi yang sangat
mengejutkan, yah.. aku terlambat, terlambat nyadari kalo aku benaran sayang.
Seminggu
setelah itu dion ulang tahun, tepat jam 00:00 diandra ingat betul tanggal yang
pernah disebut dion siang itu “tanggal 3 februari”, diraihnya hand phone dalam
tas merah maroon yang selalu ditentenganya kemana saja, dengan lancar tangannya
mengetik huruf demi huruf namun tiba-tiba ibu jarinya terhenti saat ingin
mengklik kata SEND, “ah.. jangan jam segini besok siang, atau malam aja dah..
jangan keliatan banget dong”, bisiknya pelan dibalik selimut, kembali dia simpan
hand phone yang sedari tadi diputar-putarnya karena bimbang lalu menenggelamkan
kembali wajahnya kedalm selimut merah maroonnya, merah maroon memang warna
kesukaannya, lihat saja dekorasi kamarnya dipenuhi warna yang elegan itu. Dia
pernah mencoba menghubungi dion dan nomornya masih aktif, tapi telponnya nggak
diangkat mungkin karena nomor baru, ia meyakinkan dirinya sendiri agar tidak
merasakan sakit hati walaupun ada perasaannya kalo dion benar-benar sudah lupa
dengannya. Hubungannya dengan panji berjalan datar, dia terlalu sibuk dengan
lamunannya tentang dion. Hingga akhirnya dia berhenti berbohong pada panji, dia
berhenti pura-pura cinta, mereka putus.
Diandra bangkit dari tempat duduknya saat melihat postingan
dion “kampus masih nggak ada yang beda”. Dia ada disini, tapi dimana? Tanyanya
dalam hati, dicarinya sosok yang sangat dia rindukan itu dikantin, taman, dan
tempat yang mustahil di kunjungi dionpun PERPUSTAKAAN tak luput dari
penggeledahan hingga dia melihat sosok
itu! Rasa senangnya nggak bisa diungkapin, yah.. walau hanya dapat melihat
sosok itu dari jauh, lalu dia pergi menghilang untuk memulihkan kegalauannya.
Diambilnya kursi kosong dipojokan kantin dan ditatpnya lekat-lekat kertas putih
dihadapannya hingga ia menemukan kalimat yang tepat untuk perasaannya.
Entah
mana yang harus ku ambil dari hati ini, kebencian atau cinta?
Entah apa
yang mampu ku lakukan, menatap atau menghapus?
(Dia disini)
“Benci bukanlah cara yang tepat untuk
menghapus cinta, tatap saja” suara itu, suara yng sangat ia rindukan.
Dibaliknya badannya dengan seketika dan didapati wajah yang sangat
dirindukannya”aaa….. apa kabar? Kapan datang? Selamat yah”, diandra kembali keawa,
suasana canggu seperti awal ditelpon oleh dion.”Aku baik kok, maaf yah.. nggak
ngasih kabar, kenapa gugup gitu?” diabaikannya pertanyaan diandra yang kedua.
Entah kenapa, baru sekali ini diandra mampu memaafkan laki-laki yang
jelas-jelas menyakitinya ini, membiarkannya menunggu tanpa kejelasan,
membiarkannya tau bahwa “ini loh pengganti kamu disini”. “hum… aku nggak
apa-apa kok, aku kira kamu lupa sama
aku”
Diandra di ijinkan mengahdiri acara wisuda kekasihnya itu dan dikelkan kepada keluarga dion, yah.. walaupun kedua orang tuanya tidak terlalu merespon tapi setidaknya saudaranya bersikap positif, mungkin masih teringat perjalanan cinta dion dan rena dulu sehingga orang tuanya mulai harus berhati-hati supaya nggak main hati lagi. Diandra memang tau semua cerita tentang rena entah itu langsung dari dion atau saudara perempuan dion yang telah lebih dulu dikenalkan dion kepadanya. Dion memutuskan bekerja di kota yang tempat dia kuliah, ia menjadi karyawan sebuah perusahan ternama di Indonesia.
Kisah cinta mereka nggak berjalan mulus, banyak sahabat, teman lama, orang-orang yang mengenal dion secara personal ataupun sepintas saja menasihati diandra agar berhenti atau setidaknya hati-hati terhadap dion. Memang benar sudah 4 kali sejak hubungan mereka berjalan 1 tahun dion berselingkuh, namun seperti ada yang menarik hatinya agar tidak pergi dari dion diandra selalu memaafkan dion, diandra seperti dibungkam saat melihat mata kekasihnya itu entah semarah apapun dia. seperti contohnya waktu dion selingkuh dengan sepupunya tasya. Diandra memang sempat curiga dengan kedekatan mereka, bukan hanya kedekatan tapi memang seperti ada yang membisikkan kepadanya bahwa dion ada sesuatu yang lebih dari sekedar sepupu dengan tasya. Ada perubahan sikap, setaip dion menanyakan hal yang mengganggu hatinya itu dion selalu marah-marah dan memojokkan rara, atas semua
kecurigaannya yang dion bilang “berlebihan”.
Hingga akhirnya, diandra mengumpulkan keberanian untuk secara langsung
berbicara dengan tasya dan hal mengagetkan terjadi, tasya mengakuinya tapi dia
juga nggak tau kalo diandra dan dion punya hubungan sebab tasya memang
baru-baru ini dating mengunjungi sepupunya itu.”Maaf ya din, aku benar-benar
nggak tau tapi jujur aku ngerasain kecurigaan, dari cara kamu ngerespon setiap
pembicaraan tentang dia diantara kita berdua kemarin, aku ngerasa kamu bukan
cuman sekedar teman dari dion tapi aku takut nanyainnya, aku takut kalo itu
benar-benar benar dan aku belum siap nyakitin hati kita berdua, kalo buat aku,
nggak apa-apa karna tau siapa dion, dan aku nggak pernah mau terlalu percaya
sama dia, yang aku takutin kamu, kamu yang udah lama sama dion” dengan santai
tasya bercerita dan menunjukkan rasa prihatinnya pada keadaan yang sebenarnya
kalo di flashback lucu, karena ada alasana-alasan konyol yang dipakai dion
buat nutupin semuanya.”Aku juga
ngerasain kecurigaan yang sama saya, tapi aku baru berani nanya sekarang, aku..
aku takut ngehadapin kenyataan buruknya kalo aku bakalan sakit lagi” diandra mulai
terisak. Untungnya tasya adalah sosok yang lebih dewasa, dia tau cara nenangin diandra, ngebawa dia ke keadaan normalnya. “sekarang terserah kamu mau putus atau
nggak sama dia, karena ku sama dia memang sudah selesai juga sekitar seminggu
yang lalu”.
Mereka putus, dan cuman berlangsung
selama 3 hari. Diandra memang lemah seklai kalo sudah berhapan dengan dion,
entah bodoh atau apa yang pasti diandra selalu merasa nanti dion bias berubah,
entah itu kapan.
Aku
bersama sabarku, ku gulung sakit demi sakitku
Aku
dengan cintaku, ku gelar bahagia untukmu
Manusia
tidak punya kesempatan untuk memilih kisah
Mungkin
ini memang caranya melatihku menjadi takdirmu
Jam menelan hari, hari menutup minggu. Tidak ada yang banyak berubah dari kisah mereka, masih begitu. Diandra yang dengan sabarnya mendengarkan setiap masalahnya, siap menjadi tempat dion marah-marah saat emosinya terbakar, siap jadi tempat dion buat ngeluh bahkan jadi tempat bersandar waktu dion jatuhpun adalah diandra.
“Kamu nggak kangen sama rena?”
pertanyaan fajar yang terdengar lucu di telinga dion itu membuat dion harus
menghabiskan waktu lama untuk tertawa, sampai akhirnya fajar angkat kalimat
lagi.”Aku serius, kemarin rena nelpon aku. Dia nanyain kamu, katanya kangen dia
mau ketemu”. “Dan diandra mau lu buang kemana?” dion menanggapi santai ocehan
temannya itu.”hey, dia baru setaun sama lu, dan rena?” fajar mengerutkan
alisnya.”rena 3 taun sama gue, tapi dia nggak ngenal gue, dia nggak ngerti cara
perlakuin gue, beda jauh sama rara”. dion mulai tidak suka dengan pembicaraan
ini.”Lu yang nggak bisa ngimbangin rena, lu minta dia ngerubah apijadi air..
dion, itu susah” ditatapnya wajah dion yang mulai tidak enak dilihat.”kenapa diandra bisa?” dibalasnya tatapan itu dengan sanatai, dan fajar terdiam.”nggak
bisa jawab? Karena dia mau ngerti gue” dion bangkit dari kursi yang mulai
membuatnya tidak nyaman.”Tapi rena janji bakal ngerubah sifatnya, kasih dia
kesempatan” ditariknya kembali dion hingga kembali duduk.”hahaha.. bodoh banget
kalo gue mesti nurutin permintaan lu, kenapa mesti ngambil barang yang masih
dalam kotak kalo udah ada yang diluar, yang pasti kualitasnya kita tau? Lu yang
ngenalin gue ke rara, dan sekarng lu yang nyuruh gue ninggalin dia. GILA” dion
pun berlalu dari caffe yang dijadikan tempat pertama dia dan rara ketemu.
“Aku waktu itu cuman mau tau, kamu bisa nggak tanpa aku! Aku
mau test kamu” wanita yang meninggalkan dia 2 tahun itu dating dan memintanya
kembali.
”kamu nggak punya alas an yang lebih klise lagi, muak gue
dengarnya. Kamu kira pergi dan datang kehati orang itu kaya mau mau masuk
toilet? Yang kalo kebelt aja masuknya”.
“kamu kok kasar gitu?aku datang baik-baik, buat perbaikin
hubungan”
“apanya lagi yang mau diperbaiki? Nggak ada, aku udah punya
kehidupan sendiri, aku udah nemu pesulap yang tau ngubahapi jadi air”
“aku bisa jadi pesulap yang lebih baik dari itu”
“aku udah bosen sama atraksi kamu, sekarang bisa keluar dari
halaman rumahku nggak?”. dion membanting pintu depannya, dan berlalu kedalam
“buka pintunya, hey”. ketukan pintu dari rena seperti nggak
punya suara, dia terus berlalu
Ditapakinya lorong demi lorong, ada
jalan yang dia tuju, jalan yang selalu dilewati setiap masalah membuatnya
terlalu berat untuk sekedar berdiam dengan segelas coffe di caffe sebelah
kampusnya. Nama itu, nama yang selalu mengajarkannya tersenyum saat dia
benar-benar jatuh, diingatnya semua yang terjadi setahun belakangan seakan
membuatnya harus melakukan ini.
“Hey.. kemana aja? Aku telfon-telfon
nggak diangkat-angkat, tau-taunya muncul depan pintu. Ada masalah apa lagi
sayang?” Suara itu menyapanya sesaat setelah ia mengetuk pintu.”emang harus ada
masalah dulu baru kekos pacar sendiri? Keliatan banget yah kesininya kalo lagi
linglung aja?”. Guraunya sambil memasuki kamar diandra yang terlihat cukup
rapi.”jangan tersinggung gitu dong sayang, kan biasanya kalo kangen paling sms
minta ketemu”.Diandra mengambil tempat duduk tepat didepan dion yang duduk
dikursi rias.”Di, Aku.. aku ngerasa bodoh, bodoh udah nyianyian kamu selama
ini, bodoh nyakitin orang aku sayang dan benar-benar nyayangin aku cuman karena
kebencian aku dengan orang di masa lalu, makasih aja kayanya nggak pernah bisa
jadi pengganti kata nggak apa-apa yang selalu kamu ucapin waktu aku nyakitin
kamu, kamu dilahirin pakai apa? Kenapa begitu sabar, kenapa nggak nyakitin aku
juga? Kenapa nggak bales dendam?”. ucapan dion itu membuat Diandra sedikit
tergelitik, pacarnya yang satu ini memang jarang sekali berbicara serius apa
lagi urusan hati kehati tapi bukan berarti nggak pernah cuman jarang.”hahaha
sayang, udah deh jangan tiba-tiba dramatis gini, aku ngalah dan minta maaf
walaupun aku nggak salah karena aku nggak mau dikalahin sama ego, aku masih
mikir kita bukan cuman aku dan kamu”. diandra mulai merasa pembicaraan ini cukup
serius karna tiba-tiba dion menarik badannya dan menggenggam tangannya
erat-erat.”Di, aku minta maaf buat yang selama ini. Di..?”. didekatkan wajahnya
samapi tepat didepan mata diandra.”yah” mata diandra mulai berkedip-kedip
pertanda masih dicarinya arti dari perubahan pacarnya ini.”Sekarang aku tau,
kamu orangnya. Orang yang mampu merubah api jadi air, yang mampu jadi paying
saat ku kehujanan cuman aku merasa tidak adil, kenapa tuhan nemuin aku sama
orang-orang yang salah dulu baru dia nemuin aku sama kamu? orang yang aku
yakini benar”. diandra mulai merasa harus serius, ditelannya pertanyaan dari
dion dan tanpa disadari kata-kata itu keluar sendiri.”Sayang, tuhan ngebiarin
kamu ketemu sama orang salah dulu karena dia mau kamu belajar dari kesalahan
kamu, tuhan selalu punya tujuan dan caranya sangat indah. Kamu tau kenapa tuhan
nemuin kita sama orang slah dulu baru kita ditemuin sama orang yang benar?
Karena tuhan mau kita tau cara mencintai dengan benra orang yang benar-benar
tuhan takdirin buat kita”. seperti ada salju yang seketika membuat hati dion
damai ketika mendengar itu, lalu diam sejenak hingga diandra angkat bicara lagi,”Aku tau, akhir-akhir ini rena suka nyariin kamu,
aku takut.. takut kamu kalah dengan masalalu mu”, diandra mulai menunduk, dion meraih kembali tangan kekasihnya itu seperti berusaha meyakinkan apa yang ia bilang itu benar-benar benar,"Aku nggak akan kalah selama senjataku adalah kamu. Dia cuman masa lalu
dan kamu? Kamu masa depanku. masa lalu itu bukan untuk diingat apa lagi untuk
kembali kesana, masalalu itu cuman sejarah, dan sejarah cuman untuk dipelajari”. Diandra mengangguk sambil tersenyum.
Pagi itu kembali muncul dihadapannya
wanita yang masih jelas-jelas dalam ingatannya, yang masih jelas-jelas terasa
bekas itu. “Aku kembali untuk yang terakhir kalinya, aku ingin kamu tau kalo
aku bener-bener nyesel, aku masih sayang kamu, nggak ada yang bisa sesabar kamu
ngadepin emosi aku yang kadang-kadang kurasa cukup konyol untuk jadi bahan
masalah. Aku mau belajar menyulap api jadi air”, Rena mengambil tempat tepat
disamping dion, berusaha mengajaknya berdamai dengan masa lalu, menawarkan
penghapus untuk segera menghapus cerita yang sempat membuatnya menjauh.”kemarin
belum jelas juga?” tatapan mata dion tajam menembus bola hitam yang sekarang
tidak sampai 10cm dari depannya.”Aku memang salah, aku tau itu dan setiap orang
pasti punya salah dan punya kesempatan buat memperbaiki semua”, Rena menunduk
karena tidak berani menatap keyakinan dan kebulatan tekad dion itu.”Ren, dia ninggalin
kamu? Kamu tau? Aku bukan pilihan disaat kamu jatuh, aku sama kaya kamu. Nggak
mau dipilih tapi aku mau memilih dan dia pilihanku bukan kamu LAGI, yah.. aku
akuin dulu iya, sekarang nggak. Aku udah pernah tawarin kesempatan buat kamu,
tapi kamu yang benar-benar mau pergi dari aku bukan aku, jadi jangan salahin
aku saat aku juga benar-benar benar mau pergi dari kamu. Oia.. aku udah pernah bilangkan kalo aku udah
nemuin orang yang tau ngerubah api jadi air jadi aku nggak harus memilih yang
tidak pasti”, Dion bangun dari kursi yang dari tadi membuatnya nyaman, tapi
berubah gersang seketik. Ditinggalkannya rena yang sedang menganga, terdiam
menyaring kata demi kata yang benar membuatnya sadar kalo dia sudah nyianyian
orang yang mengerti hanya untuk orang yang masih belajar mengerti, dan benar
apa yang di lakukan dion, dia memilih yang pasti bisa bukan aku yang masih
berusah berubah.
Mencintai itu bukan hanya menjaga
hati, tapi menjaganya dari kesakitan lain. Menyia-nyiakan orang yang
benar-benar tulus hanya untuk yang datang saat masalah menghantui hubungan itu
kebodohan, penyesalan itu nggak akan datang pada awal, dia hanya akan
menyadarkanmu dari kesalahan yang membuatmu terpuruk dalam waktu yang lama.